Showing posts with label kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label kebudayaan. Show all posts

Monday, August 17, 2009

Tai Chi dan Seni Tari Klasik Jawa

Di manakah titik temu antara gerak Tai Chi dan tari Jawa klasik? Kedua tradisi berbeda itu bertemu pada hasrat untuk menyelaraskan diri dengan energi alam. Lihat saja pentas tari ”Song of Body” karya Danang Pamungkas (30), koreografer asal Solo yang kini menjadi penari di Cloud Gate Dance Theater of Taiwan. Danang tampil bersama dua penari lain, Rianto dan Luluk Ari, di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 2-3 Februari 2009. Tata cahaya ditangani Sugeng Yeah, dengan musik dari Philip Glass Song and Poems for Solo Cello.

Sejak awal, pertunjukan tari ini memang berhasrat menyeret penonton masuk dalam suasana alam. Lantai panggung dipenuhi hamparan pasir laut, sebagian dionggokkan menyerupai dua gundukan. Di bawah sorotan lampu temaram, hamparan pasir dengan permukaan berbarik-barik itu menyerupai pemandangan pantai pada malam yang berangin.

Danang muncul bertelanjang dada, hanya bercelana gombrong warna merah marun. Bersamaan dengan alunan musik Philip Glass yang menuntun, dia berjingkat untuk merespons hamparan pasir. Butiran pasir diraup, digenggam, lantas diawur-awurkan. Penari berambut cepak itu kemudian meliuk-liuk pelan. Tangannya bergerak memutar lembut, seperti air mengalir. Dalam geliat yang makin berbobot, tangan dan kaki itu bergeser membentuk irama seperti mengaduk air dan udara. Makin lama, makin kentara, gerak itu bermuara pada pola tai chi yang terkenal itu.

Muncul penari kedua, juga bertelanjang dada dan bercelana gombrong. Masih dalam irama gemulai, dia berputar, meloncat, dan bergerak dengan landasan pola tai chi tadi. Begitu pula penari ketiga yang hadir belakangan. Kuda-kuda kaki para penari itu kokoh mengentak lantai. Dengan perut kembang kempis akibat konsentrasi pernapasan, mereka seakan menyerap energi bumi, lantas mengedarkannya ke seluruh tubuh. Pada puncak-puncak gerak, tubuh mereka menggeletar menguari energi yang memendar-mendar. Spirit tari Jawa mengental lewat tempo lambat yang menciptakan suasana meditatif. Sesekali gerak jari dan lengan penari menyerupai kelembutan gerak tari Jawa klasik.

Persentuhan tai chi dan Jawa itu lebih cair lantaran dijalin dengan semangat kebebasan tari kontemporer. Kebebasan itu pula yang mengantarkan ketiga penari itu keluar masuk dengan leluasa. Mereka saling merespons, bertaut, berbagi energi. Suatu saat mereka bergerak seragam, lain kali memisah sendiri-sendiri. Kadang, masuk juga pola tari balet dengan tubuh saling menumpu dan memutar anggun. Pada satu titik, Danang maju ke depan, meraup pasir, lantas berdiri mematung.

Dalam keheningan, dia mendongak, menatap butir-butir pasir yang jatuh meluruh mengikuti sedotan gravitasi bumi. Harmoni Apa sebenarnya yang dicari Danang lewat karya yang mempertemukan spirit tai chi dan tari Jawa klasik? ”Saya ingin berbagi energi dan mengajak penari untuk menyatu dengan energi alam,” kata penari lulusan STSI Solo itu seusai pentas. Untuk apa semua itu? ”Ketika mencapai harmoni energi, kita akan bisa merasakan diri sendiri, menenangkan pikiran. Momen itu kan sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yang serba terburu-buru.” Kenapa memilih suasana pantai, lengkap dengan pasirnya? ”Kebetulan, di Taiwan saya tinggal di kawasan dekat pantai bernama Dan Sui.

Saya sering berlatih menari di pantai itu. Lantas, saya pikir, kenapa tidak saya buat karya berdasar pengalaman itu sekalian?” Sudah setahun ini Danang aktif sebagai penari di Cloud Gate Dance Theater of Taiwan dan belajar pada koreografer Lin Hwai-min. Program itu dilakoni setelah dia mengikuti lokakarya tari dan koreografi bersama Lin Hwai-min yang diselenggarakan Kelola di Solo, pertengahan Agustus 2007 lalu. ”Song of Body” di Salihara cukup menarik penonton dua malam itu.

Salah satunya, koreografer lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Hartati. Menurut perempuan ini, karya Danang berhasil memperlihatkan intensitas gerak yang kuat. Tanpa memuncak pada klimaks tertentu, struktur koreografinya cenderung mengalir dari awal hingga akhir. ”Tak ada narasi khusus dalam karya ini, tetapi gerak dan suasana yang tercipta sangat kuat merangsang kita untuk merenungi diri sendiri,” katanya.

Monday, June 29, 2009

Design Prangko Adalah Ikon Budaya Yang Terlupakan

Dari sekian banyak komunitas,mungkin komunitas filateli yang paling sedikit peminatnya.Tapi soal fanatisme, jangan diragukan lagi.

Komunitas ini mengusung idealisme membudayakan tulis-menulis melalui surat atau sekadar mengenang memorabilia suatu kejadian yang pantas diabadikan dalam design kertas kotak mungil itu. Memang, dari selembar prangko, ternyata kita bisa punya banyak pengalaman.

Setidaknya, dari prangko itu kita bisa menambah ilmu.Hanya dari kolektor prangko, orang sering memanfaatkan gambar-gambar dalam design prangko itu untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti geografi,sejarah,flora,fauna.

Tema yang diambil pada kegiatan Jakarta 2008, 22nd Asian International Stamp Exhibition itu pun cukup unik,yaitu Philately, a Bridge to Friendship among Men,tentu sangat sesuai dengan prinsip-prinsip dan falsafah yang diemban para filatelis. Para kolektor prangko tersebut memang tidak saja mengoleksi hanya sekadar pajangan. Lebih dari itu,sebuah persahabatan bisa terjalin hanya dengan barter prangko.

Pameran bertaraf internasional yang diikuti berbagai perwakilan stamp dealers dari berbagai negara berlangsung 23–28 Oktober 2008. Pada kegiatan ini, juga ada ajang kompetisi yang menghadirkan 350 orang peserta,dengan perincian 212 orang dari kelas internasional,78 orang kelas nasional,60 orang perwakilan dari stamp dealers,.

Selain itu,sekitar puluhan ”pedagang prangko” bukan hanya dari kawasan Asia-Pasifik, melainkan juga dari Eropa akan membuka gerai penjualan benda-benda filateli mereka di pameran ini.

Menkominfo M Nuh saat memberikan sambutan pembukaan mengatakan,forum filateli sebagai wadah yang mampu memberikan harapan untuk saling bertukar pandangan pada bidang filateli dalam banyak aspek yang berbeda.Pun pada 2008 tersebut,Indonesia sedang menggalakkan kampanye Visit Indonesian Year.

Dengan harapan, citra Indonesia yang tertoreh dalam design prangko tersebut dapat membangkitkan wisatawan untuk datang ke Indonesia. Selama lima hari tersebut,PT Pos Indonesia juga meluncurkan joint stamp dengan Turki. Sekitar 1200 frame koleksi design prangko dari 24 negara di Asia-Pasifik yang dikompetisikan, tampil dengan banyak keunikannya.Sebut saja antara lain koleksi dari salah satu boothyang khusus memberi label produk prangkonya dengan amazing stamp.

Di stan ini,ditampilkan design kumpulan-kumpulan prangko yang dibentuk bergambar calon Presiden Amerika Serikat Barrack Obama serta Albert Einstein,yang dipajang dalam sebuah bingkai besar.

Saturday, October 11, 2008

Ilustratif, Integratif dan Dimensi Design Visual Dalam Proses Kolaborasi Puisi

Istilah kolaborasi berasal dari ilmu perang yang berarti bekerja sama dengan musuh. Dalam seni dan sastra berarti penggabungan dua jenis karya seni yang melahirkan satu bentuk karya seni baru. Contohnya: Film adalah kolaborasi dari seni sastra, seni pentas, seni musik, dan seni rupa atau design.

Dewasa ini timbul jenis-jenis puisi hasil kolaborasi dari seni sastra dan seni lain. Kolaborasi puisi memiliki sejarah panjang. Bentuk kolaborasinya ada dua macam yaitu kolaborasi ilustratif dan kolaborasi integratif.

Pada kolaborasi ilustratif kehadiran puisi hanya didukung dan diperkuat oleh bentuk dan unsur seni lain, yang sifatnya ilustratif dengan design graphic. Misalnya, puisi-puisi Cina klasik yang ditulis di atas kain sutra diberi ilustrasi sesuai dengan isi dan suasana puisi. Hal yang sama terdapat dalam rubayat Omar Khayyam edisi bahasa Inggris Edward Fitzgerald (edisi keempat).

Kolaborasi integratif terjadi pada musikalisasi puisi. Seni sastra berkolaborasi dengan seni musik melahirkan karya baru, puisi yang dinyanyikan. Kolaborasi jenis ini juga banyak terdapat dalam khazanah puisi Cina klasik.

Kolaborasi integratif antara puisi dan seni rupa design terjadi di dalam puisi konkret atau puisi design visual. Larik-larik puisi dibentuk menjadi wujud tertentu tanpa meninggalkan keverbalannya sebagai seni sastra. Salah satu contoh puisi ‘ALLAH’ karya Danarto. Sebagai puisi verbal lariknya masih bisa dibaca. Sementara itu strukturnya dibangun dalam matra design visual yang bermakna simbolik.

Kolaborasi antara puisi dengan seni rupa design tampaknya terus berkembang dalam berbagai bentuk dan variasi. Di Jepang, Osama Asano dan Banyak Natsuishi mengkolaborasikan Haiku dengan seni rupa menjadi sebuah puisi design visual. Pada tahun 1997 penyair Jepang Katsunori Kusunoki meluncurkan puisi visualnya yang disebutnya Poetry Boxing; yaitu puisi yang bermatra teatrikal. Kihachiro Kawamoto mengkolaborasikan Haiku dengan film animasi. Puisi menjadi bentuk seni yang hidup bergerak.

Pelukis Bali, Made Wianta, juga melakukan kolaborasi puisi dan seni rupa design. Dalam hal media dan teknik Wianta lebih cenderung membawa karya kolaborasinya ke arah seni rupa. Puisi yang dikolaborasikan tidak dipakai untuk mewujudkan suatu rupa, tetapi menjadi unsur seni rupa design. Selembar sobekan koran diberi lukisan dan goresan-goresan puisi. Sobekan koran itu menjelma menjadi karya seni rupa, dan puisi menjadi salah satu unsurnya. Kadang-kadang puisi itu tidak lagi bisa dibaca, dan tidak lagi mengandung makna. Hal ini menegaskan, karya itu lebih cenderung sebagai karya seni rupa design.

Di bawah pengaruh seni instalasi puisi design visual atau puisi konkret keluar dari matra dimensinya; dari dua menjadi tiga dimensi. Sebuah seni instalasi bisa sebuah puisi yang telah berkolaborasi dengan seni rupa.

Dalam sastra Bali klasik juga terdapat kolaborasi puisi dan seni rupa; yang dikenal dengan nama Rerajahan, yaitu sejenis sastra magis-spiritual. Karya lain misalnya Sastra Yantra karya Anak Agung Istri Agung. Sepintas lalu karya ini tampaknya dibangun dengan kolaborasi ilustratif design graphic. Tetapi bila dicermati pada hakikatnya memakai kolaborasi integratif. Fragmen-fragmen gambarnya merangkai dan mengantarkan teks puisinya mengikuti arah tertentu. Karya ini adalah seni sastra sekaligus seni rupa.

Sutan Takdir Alisyahbana (almarhum) pernah menyuruh Ni Reneng mengkolaborasikan puisinya yang berjudul ‘Perempuan di Persimpangan Zaman’. Hasilnya adalah sebuah tari Bali dengan nama yang sama.

Larik-larik puisi yang menunjukkan temanya diwujudkan dalam gerak tari simbolik. Orang boleh menyebut karya ini puisi yang ditarikan atau tarian puitis.

Variasi kolaborasi puisi dan seni musik antara lain dilakukan oleh Hintze (dipertunjukkan di Werdi Budaya Denpasar, 22 Agustus 2003, dalam acara Pesta Sastra Internasional). Bentuknya tidak sekadar musikalisasi puisi. Puisinya terdiri dari aneka bunyi yang dihasilkan oleh mulut didukung oleh bunyi-bunyi produk alat elektro dan gesekan benda-benda. Pemirsa hanya bisa menikmati puisi bunyi ini lewat kesan-kesan yang timbul menurut pengalaman estetik masing-masing.

Melalui proses kolaborasi bentuk dan jenis puisi bertambah. Definisinya pun berubah. Meski tak sepenuhnya meninggalkan bahasa verbal, puisi hasil kolaborasi sering berada di luar bahasa verbal. Tak ada lagi definisi yang bisa menjangkaunya, kecuali ditunjukkan oleh sifat kepadatan intensitasnya.

Kolaborasi puisi dapat membantu membukakan peluang bagi penikmat dan pengapresiasi, di samping memberikan medan seni yang baru. Dengan kolaborasi kerumitan dunia puisi dapat ‘dicairkan’, sehingga lebih mudah dinikmati dan diapresiasi.

Pada musikalisasi puisi, peningkatan irama karena unsur musik dapat lebih menggugah indera-indera penikmat. Dengan kata lain puisi telah membuka jalan yang lebih lapang guna dimasuki oleh pengapresiasi.

Kolaborasi puisi dengan seni rupa design memungkinkan puisi memperoleh dimensi baru yaitu dimensi design visual. Aspek verbalnya memberikan makna lewat tema, sedangkan aspek visualnya memberikan makna simbolik lewat rupa. Pemirsa dapat menikmati puisi sekaligus seni rupa.

Sudah saatnya bentuk-bentuk kolaborasi puisi diperkenalkan di ruang kelas, kalau kita tidak mau siswa kita tertinggal oleh perkembangan seni budaya design sejagat.

Oleh: Nyoman Tusthi Eddy

  ©Blogspot Design By Pensil Warna Design.

TOPO